Serba Serbi Pawai Ogoh Ogoh Sambut Tahun Baru Saka 1941

Oleh: | 07 Maret 2019
Dibaca: 107 Pengunjung

Serba Serbi Pawai Ogoh Ogoh Sambut Tahun Baru Saka 1941

Kediri.Tidak lengkap bila jelang Hari Raya Nyepi tiada ogoh ogoh, dan ogoh ogoh ininsudah menjadi identik dengan Hari Raya Nyepi, termasuk di Kediri. Di Kecamatan Kandangan, ribuan umat Hindu mengarak 24 ogoh ogoh yang berasal dari 4 desa.

Berbagai komentar warga, terkait pawai ogoh ogoh yang dipusatkan di 2 tempat terpisah, Desa Medowo dan Desa Banaran. Komentar-komentar tersebut diserap langsung dilapangan, sebelum ogoh ogoh diberangkatkan.

“Baru pertama kali nonton pawai ogoh-ogoh. Dulunya sering lihat, tapi di tv, sekarang lihat langsung. Susananya memang beda kalau lihat langsung, lebih seru. Kalau di tv, kurang,” kata Suprapto, warga Kasembon Malang.

Berbeda dengan Kastaji, warga Ngantang Malang, mengatakan ,”Senang, lihat ogoh-ogoh ternyata lebih gede kalau kita lihat. Kalau di tv, kelihatan tidak begitu besar. Kelihatannya cukup berat ya, yang gotong kelihatan. Saya salut sama yang gotong, padahal lebih dari 4 km ini.”

Masih ditempat yang sama, Mujiono, warga Kepung Kediri mengatakan ,”Tiap tahun, saya pasti nonton, karena ada jadwalnya, kalau gak di radio, ya ada spanduknya, jam sekian, tanggal sekian.”

Tak ketinggalan, Danramil Kandangan Kapten Chb Aif Waluyo, Kapolsek Kandangan AKP Eka Purnama dan Camat Kandangan Sunar Utomo, mengikuti acara tahunan di Kecamatan Kandangan ini.

Dalam pawai ogoh ogoh ini, AKP Eka Purnama berpesan kepada seluruh warga Kecamatan Kandangan untuk saling menjaga keamanan dan ketertiban, termasuk salah satunya kerjasama antara Koramil Kandangan, Polsek Kandangan, Pecalang, Banser dan Linmas.

Merujuk pada eksistensi ogoh ogoh bagi umat Hindu, Ketua PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Desa Medowo, Yuliono menjelaskan,“Kita sisihkan sebagian hasil kita untuk ogoh-ogoh ini. Kalau tidak dari kita-kita ini, terus darimana ogoh-ogoh ini. Ini sebenarnya untuk kita sendiri. Disini, kita harus ikhlas, tulus, pangerten akan pangurip. Karena kita sudah diayomi, diberi, ya sekarang kita memberi. Jangan terus-terus sudah diayomi, diberi, tapi malah tidak pernah memberi. Tapi harus sukarela, gak boleh ngresulo.”

Ditambahkan Supriyono, Ketua PHDI Desa Banaran ,”Ini ada maksudnya, kita harus meninggalkan nafsu, nafsu duniawi, nafsu kekuasaan, nafsu birahi. Wujud butakala di ogoh-ogoh ini adalah wajah kita, diri kita, cermin kita yang buruk sikap, buruk perilaku, buruk watak, buruk pikiran. Setelah kita arak, kita gotong rame-rame, ya kita bakar. Artinya, membakar nafsu kita, membakar keburukan kita sendiri.”

Terkait keberadaan pawai ogoh ogoh di Kecamatan Kandangan, Sutaji, Ketua PHDI Desa Mlancu berpesan ,”Mari kita sama-sama menjaga, melestarikan budaya dan keberagaman agama, suku semuanya, karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang pluralisme dan kita satukan semuanya, dalam Bhinneka Tunggal Ika. Bangsa kita ini bangsa besar, Bhinneka Tunggal Ika harus dirawat, harus kita jaga, kita teruskan ke generasi kita.”

Tercatat ada 24 ogoh-ogoh yang diarak dan ke-24 ogoh ogoh ini berasal, 5 dari Desa Banaran, 9 dari Desa Mlancu, 9 dari Desa Medowo serta 1 dari Desa Karang Tengah. Disamping itu, di kecamatan Kandangan tercatat ada 10 Pura, yaitu 1 di Desa Karang Tengah, 1 di Desa Banaran, 4 di Desa Medowo dan 4 Desa Mlancu.

Sebagaimana dikatakan Yulianto, warga Desa Medowo ,”Kalau berat ya, pastilah, tapi tidak terasa, buktinya dari Pura kembali Pura, itu ada 4 km. Saya dari awal sampai lagi ke Pura, tidak ganti orang, tahun kemarin sama, dari awal sampai Pura lagi. Ini masih mending, yang berat, yang ogoh-ogohnya besar, ini ukuran sedang. Kalau tahun kemarin, saya ngangkat yang gede. Ngangkat ogoh-ogoh ini, ya rebutan, semua pingin ngangkat. Kalau saya, gak mau, kalau masih kuat, ya saya angkat, gak mau diganti. Maunya, ngangkat yang besar, tapi kalah cepat, jadinya ngangkat yang ini.”

Ketua FKUB Kecamatan Kandangan Ali Nasuhan bersama perwakilan umat Kristen, Pendeta Richard, ikut mendampingi Muspika Kecamatan Kandangan “door to door” dari Pura ke Pura.

Ali Nasuhan mengajak seluruh umat beragama di Kecamatan Kandangan untuk saling menghormati dan menjaga kerukunan antar umat beragama, salah satunya dengan ikut menjaga kesunyiandi lingkungannya masing-masing, saat saudara mereka yang beragama Hindu menjalankan Catur Brata atau Nyepi. (dodik)





Berita Terkait:


Berita Lainnya:

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 

Terpopuler
Fans Page